Langsung ke isi

Permainan Anak-Anak

Desember 30, 2007

M

asa anak-anak adalah masa yang indah untuk diingat, kata sebagian orang. Bagi orang-orang yang hidup pada masa anak-anak tahun maksimal 1990-an, melihat kondisi anak-anak zaman sekarang sangat memprihatinkan. Anak-anak tersebut dinilai tidak berdaya dikekang teknologi. Siang-malam matanya dicengkram monitor-monitor. Monitor televisi, monitor playstation, monitor komputer dan monitor telepon selular.

Seorang anak kecil merengek-rengek kepada orang-orang yang lebih tua agar dituruti kehendaknya memainkan pertarungan dalam playstation. Sebuah permainan yang senantiasa menyediakan nyawa rangkap untuk memenangkan pertarungan. Daya kecerdasan, taktik, dan strategi mereka gerakkan untuk mencapai kemenangan. Sementara tubuh si anak hanya bergoyang-goyang, ke kanan-ke kiri, untuk mengimbangi pikiran yang mereka gerakkan melalui jemarinya yang mungil.

Sementara, di ruang yang berbeda, seorang anak menciar-ciar karena berebut chanel televisi dengan kakaknya yang sudah remaja. Si kecil menginginkan mata dan daya imajinasinya dimanjakan oleh kehebatan-kehebatan tokoh kartun yang cerdas. Si remaja mengharapkan perasaannya terhipnotis oleh kemesraan sepasang kekasih yang memadu cinta. Ketika sang orang tua datang, si remaja disuruhnya mengalah. Lalu, larilah sang remaja ke teras-teras rumah temannya yang sedang menggosip tentang kemesraan orang lain.

Saat si remaja asyik bercekakak-cekikik dengan sesama kawannya yang genit-genit, si kecil terbengong-bengong menyaksikan warna kehidupan khayali yang diciptakan oleh negeri asing. Setelah film kartun selesai, si kecil berjumpalitan, bersilat tangan dan kaki menirukan gaya tokoh kartun yang barusan mereka saksikan. Begitu pula si kecil yang pulang dari rumah rental playstation. Mungkin, ketika keduanya bertemu, keduanya akan mengadu strategi pertarungan yang pelajari dari kedua media tadi. Siapa yang menang? Entahlah.

Konon, cerita ini berbeda dengan anak-anak yang hadir pada masa setelah 1990-an. Anak-anak lebih banyak menggerakkan tubuhnya di jalan-jalan. Mereka memainkan permainan yang penuh dengan strategi dan taktik, sekaligus melibatkan tubuhnya hadir dalam strategi dan taktik tersebut. Mereka mengaku strategi dan taktik menyatu dalam darah dan daging mereka. Darah mereka kadang mengucur deras dari jari-jari yang tersayat, bahkan kadang dagingnya menganga karena luka. Bekas-bekas luka ini adalah kebanggaan yang selalu diceritakan pada kawan-kawannya.

Sementara, si kecil zaman sekarang menceritakan kebanggaan-kebanggaannya karena banyak uang. Si kecil lahir dan dibesarkan oleh kehidupan yang berbeda dengan orang-orang tua yang memanjakannya. Mungkin, sang orang tua merasa kasihan dengan masa lalunya yang kelam. Ia tidak menginginkan anak-anaknya mengulang cerita yang pernah dialaminya. Tapi, terkadang orang tua ini terus menggerutu dengan mengungkapkan, “Waktu saya kecil dulu tidak begitu-begitu amat. Heran saya dengan anak-anak kecil sekarang.”

Namun demikian, benarkah si anak kecil itu adalah pelanggar sebuah tradisi? Mari kita tanya pada tradisi masa lalu yang mengajarkan kita tentang sebuah permainan anak-anak.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.