|
P |
olisi. Ih, menyeramkan, menakutkan, dan sekaligus menggelikan. Padahal, mereka hanyalah manusia biasa, butuh makan, butuh ngeseks, butuh santai, sebagaimana manusia pada umumnya. Soal seragam, juga banyak kawannya, termasuk anak sekolah, pegawai kantor, tentara dan lain sebagainya. Akan tetapi memang, sepertinya hal-hal yang berseragam tampak manakutkan, bukan?
Mari kita telusuri hal-hal yang menakutkan akibat seragam. Mulai yang kecil-kecil dulu. Anak sekolah.
Beberapa tahun yang lalu, tawuran demi tawuran dilakukan oleh anak-anak sekolah. Mereka mengenakan baju putih bercelana abu-abu, terkadang bercelana pendek warna biru. Mereka adalah anak-anak sekolah menengah atas dan pertama. Anak-anak ini membuat keributan yang luar biasa. Bapak-Ibu, Abang-Nona terpejam-pejam di mobil angkutan atau bus kota, karena ketakutan atas ulah mereka yang mengancam luka. Mereka tidak takut dengan siapa pun, kecuali rasa sakit yang akan menimpahnya. Mereka akan lari tunggang langgang kalau yang mengejar mereka adalah banyak orang sambil membawa benda-benda tajam atau yang menyakitkan. Tapi, kalau sudah geram, mati pun akan didatangi tanpa basa-basi.
Konon, anak-anak yang tawuran ini tidak punya motif untuk kepentingan individual. Mereka rela berdarah-darah demi kepentingan kolektif di antara mereka, di antaranya atasnama sebuah identitas geng. Mereka akan bangga kalau geng mereka mampu membuat kapok musuh yang diserangnya. Persoalan akan ada dendam yang akan ditimbulkan di hari kemudian, itu soal lain. Yang terpenting, hari ini terjadi unjuk perkelahian antar kelompok.
Lalu, anak mahasiswa. Seragam mahasiswa ini tersembunyi. Hanya dipakai pada saat-saat tertentu saja. Karena, di dunia kampus seragam tampak tidak terlalu penting, kecuali dalam ruang-ruang tertentu. Tidak aturan tegas dari civitas akademis mahasiswa yang mengharuskan mahasiswa pakai seragam, kalau tidak, akan dihukum. Tidak ada.
Aturan-aturan untuk mengenakan seragam dalam komunitas mahasiswa justru muncul dari kesadaran kolektif mereka. Biasanya, kesadaran kolektif ini didorong oleh sebuah keinginan untuk menunjukkan kelompok mereka sebagai kelompok yang eksis dan formal. Jelas, ini berbeda dengan para siswa sekolah. Kalau siswa sekolah, jika tidak berseragam tidak boleh masuk kelas. Para guru sangat tegas menyikapi persoalan ini.
Para mahasiswa yang berseragam juga pernah menunjukkan beberapa peristiwa yang menegangkan. Peristiwa yang paling terkenal adalah peristiwa demonstrasi. Peristiwa ini bukan saja menunjukkan kekuatan mereka dalam menggerakkan segerombolan manusia dengan ungkapan-ungkapan liar. Peristiwa ini juga bukan saja membuat merinding pejabat yang sedang dihujat. Bahkan, peristiwa ini juga bisa menghasilkan kerusakan-kerusakan fasilitas umum yang menjadi simbol kekuatan yang dilawan. Para mahasiswa pun semakin beringas, jika kekuatan yang mereka kumpulkan itu ditakut-takuti.
Kelompok seragam yang bisa menakut-takuti sekelompok mahasiswa ini adalah polisi dan/ atau tentara. Meskipun, rasa takut itu masih mereka uji dahulu kekuatannya. Dan fakta membuktikan, polisi dan/ atau tentara, yang menghalau gerakan demonstrasi yang masih bertahan di lokasi demonstrasi. Sedangkan, para mahasiswa pergi meninggalkan lokasi. Akan tetapi, ada juga tujuan aksi dan berkonfrontasi para mahasiswa ini hanya untuk masuk televisi, dan menjadi berita yang menarik.
Berbeda dengan kelompok-kelompok berseragam para pelajar ini, polisi tidak harus bergerombol untuk menjadi sosok yang ditakuti. Mungkin ia adalah makhluk formal yang dipelihara negara untuk menakuti-takuti masyarakat berbuat pelanggaran. Bahkan, orang yang tidak melanggar saja, bisa-bisa shock kalau melihat polisi bergaya dengan mobil seragamnya.
Sepertinya, seragam polisi ini benar-benar menyunsum dalam urat ketakutan masyarakat. Meskipun, para polisi ini sangat berusaha untuk santun terhadap pelanggar.
DIarsipkan di bawah: Budaya, Hukum, Sosial | Ditandai: demonstrasi, mahasiswa, pelajar, polisi, seragam, tawuran



Kalau gue nggak takut sama polisi…gue takut duit gue abis sama polisi…jadi bukan takut polisinya, tapi takut sama kehabisan duitnya….hehehe.