Proyek

P

royek. Mendengar istilah ini, terbayang di benak saya, uang mengucur lebat seperti curug. Bayangan ini, saya kira, juga hinggap di benak-benak berbagai kelas masyarakat. Ia buta terhadap kelas. Karena istilah proyek benar-benar menjadi simbol kesejahteraan seseorang. Tidak peduli mereka adalah buruh bangunan, kuli batu, penjual es, tukang ojek, atau pejabat tinggi pemerintah, atau aktivis lembaga swadaya masyarakat.

Entahlah, kenapa istilah ini begitu menjalar dalam obrolan-obrolan di tongkrongan. Tentu saja, tongkrongan ini pun berbeda-beda tempatnya, sesuai dengan kemampuan membayar bill atau tagihan yang diminta oleh penjual. Kalau penghasilan di bawah Rp 20.000 perhari, tongkrongannya di warung dengan fasilitas Angin Cendela. Jika penghasilannya di atas Rp 150.000 perhari, tongkrongannya sejuk oleh hembusan Air Conditioner. Ya, kedua-duanya menggunakan fasilitas AC. Urusan kepanjangan, tidak usah diomongkan.

Ketika seseorang sudah mengemukakan kata ”proyek” di sela-sela obrolannya, mata rasanya berbinar-binar. Tidak ada rasa lesu yang menggelayut di pikiran. Bahkan, kalau sudah itung-itungan, ”nanti uang itu kita dapat dari sini sekian, dari sono sekian”, ”buat beli ini sekian, buat bayar itu sekian”, dan seterusnya, wah, sampai semalam suntuk bulu-bulu mata seperti berkibar.

Selidik punya selidik, isi proyek yang diobrolkan masing-masing kelas ternyata berbeda. Misalnya, dalam obrolan di sebuah gardu tukang ojek istilah proyek juga muncul. Para tukang ojek ini membincangkan proyek-proyek temannya teman yang punya teman dapat proyek. Mereka menceritakan si temannya teman yang punya teman dapat proyek itu menggebu-gebu, ”Si X ini luar biasa, bos. Bayangkan coba, sekali dapat proyek dia bisa beli rumah dan mobil baru seharga Rp 500 juta,” kata salah satu dari mereka. Tentu saja ini menjadi berbincangan yang bisa meneteskan liur para pengojek yang sehari-hari maksimal mengantongi uang Rp 50.000 termasuk uang cicilan motor yang belum lunas.

Lalu, ada salah satu tetangga si tukang ojek yang sedang berkumpul itu pulang dari kerja. Si pegawai kantor itu tampak wajahnya bercahaya, pertanda bahagia. ”Wah, kayaknya proyeknya lancar, nih?” sapa salah satu dari mereka. Si lelaki itu pun tersenyum bangga. Entah benar, entah salah dugaan si tukang ojek, yang jelas si pegawai itu memberikan sinyal kebenaran. ”Bagi-bagi dong proyeknya, Pak,” ledek si tukang ojek. Di luar dugaan, si pegawai itu benar-benar mendatangi gerombolan tukang ojek itu, dan bilang, ”Begini, Bang, bisa tidak besok teman-teman di sini mengumpulkan bendera merah-putih?” ”Buat apa?” tanya si tukang ojek heran. ”Lho, katanya mau proyek?” jawab si pegawai itu. ”Butuh berapa?” tanya si tukang ojek lagi. ”Tidak banyak. Cuma 200 bendera. Satu bendera dihargai Rp 2.000,” jelas si pegawai. Rupanya, proyek itu seperti itu.

Berbeda dengan kisah orang-orang yang uangnya lebih banyak. Dalam suatu kesempatan, seorang lelaki muda dengan model eksekutif duduk-duduk di sebuah kafe salah hotel bintang lima. Dia tampak tegang, sambil memegang map berwarna coklat. Sesekali tangannya memainkan keypad telepon selularnya yang canggih. Lalu, tidak lama kemudian, seorang lelaki yang agak gendut, bercelana blue jeans, dan berkaos oblong putih mendekati lelaki muda yang sudah beberapa menit hadir terlebih dahulu itu.

”Jadi begini, Pak. Bapak bilang, harga-harga sudah ditentukan dalam dokumen ini,” si esmud itu menyerahkan map coklatnya kepada si gendut. ”Nanti, urusan perizinan dan sebagainya, orangnya Bapak yang akan menyelesaikan. Pak Ndut tidak usah repot-repot untuk mengurus tetek bengek itu. Pokoknya, Bapak hanya pesen semua yang tertulis dalam map coklat ini bisa berjalan secepatnya. Kalau ada masalah-masalah dengan pimpinan Pak Ndut, bilang saja ke Bapak. Sebab, Bapak sudah tahu semua permainan-permainan di instansi tersebut. Ini, Bapak nitip Rp 20 juta dulu untuk biaya operasional.”

Setelah mendapat uang dua puluh juta, si gendut bisa ditemui di kafe-kafe yang bill-nya mahal. Dia tampak duduk-duduk, ber-haha-haha dan asap rokok berkebulan dari mulutnya bersama empat orang yang usianya lebih muda. Lalu, saat pulang, keempat orang tersebut diberi uang, masing-masing satu juta, sambil berpesan, ”Jangan lupa, besok siang aku sudah bisa terima tanda tangan orang sekampung.”

Sebulan kemudian, ada sebuah kampung yang sudah rata dengan tanah. Di sana tampak si gendut, si esmud, dan beberapa orang lain, yang disebutnya sebagai pelaksana proyek.

Tinggalkan Balasan