Klakson

“D

in… Din… Din…” Tiba-tiba, “Brak!!!” Sebuah motor tersungkur, mencium aspal panas dengan roda tetap berputar.

Jalanan saat itu rapat dan padat kendaraan. Namanya saja Jakarta. Sudah menghadap lampu merah, waktunya orang pulang kerja, lagi. Jadi, jangan salahkan kalau jalanan jadi macet dan mampat.

Entah karena dikejar uang atau dikejar pulang, seorang lelaki bejaket kulit hitam, berhelm warna pekat, dan bermotor bebek mengkilat tampak bergerak cepat dengan gaya menyetir yang tegang, dia tak henti membunyikan klaksonnya, “Din… Din… Din…”.

Kira-kira, maksudnya supaya orang yang menghalangi jalan yang akan dilaluinya minggir atau menghindar. Kebetulan, orang yang berada di depannya panik, lalu gasnya ditarik, menabraklah motornya ke motor di depannya. Malangnya, dia tidak kuat untuk berusaha mengendalikan motor yang kaget itu. Orangnya pun lecet-lecet karena bergores dengan aspal.

Untung orang yang tertabrak di depannya tidak terlalu tersentak. Kelihatannya, orang tersebut ingin marah dan membentak. Namun, dia justru segera tancap gas, saat melihat orang di belakangnya mengerang kesakitan. Entahlah, mungkin dia merasa bersalah. Yang jelas, si pengklakson tampak tidak merasa bersalah, karena dia sudah tidak tampak, entah kemana.

Rupanya, orang yang suka membunyikan klakson kendaraan bermotornya itu beragam coraknya. Pertama, orang latah. Orang jenis ini jarang sekali tidak membunyikan klakson kendaraannya. Dia tidak pandang situasi, macet atau lancar. Hampir setiap puluhan meter perjalanan, tangannya seperti gatal kalau tidak membunyikan klakson, meskipun di depannya tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi jalannya. Dan rata-rata kecepatan kendaraannya tidak terlalu kencang, tapi tidak suka menyalip kendaraan di depannya. Dia hanya suka saja membunyikan klakson.

Kedua, orang kepanikan. Orang jenis ini sepertinya punya trauma jika tidak membunyikan klakson kendaraannya saat ada sesuatu yang ada di depannya, meskipun sesuatu itu jaraknya cukup jauh. Memang, laju kendaraannya rata-rata cukup cepat, dengan posisi tubuh yang agak tegang saat menyetir. Membunyikan klakson ini, tampaknya memang berharap untuk bisa menyalip.

Ketiga, orang berpitam. Orang jenis ini biasanya banyak muncul saat jalanan macet, khususnya saat lampu lalu lintas mulai menguning. Dia memang jarang membunyikan klakson saat jalanan lancar, kecuali jika ada yang menghalangi, namun bunyi klaksonnya terdengar sangat keras dan panjang. Dan yang keempat, orang normal. Orang jenis ini akan membunyikan klakson kendaraannya kalau benar-benar dibutuhkan. Misalnya, klakson permisi untuk menyalip atau numpang lewat di kerumunan pejalan kaki, klakson sapaan kalau melihat temannya, klakson memanggil pembantu untuk membuka pintu, dan klakson-klakson lain yang digunakan sewajarnya saat berkendaraan.

Mungkin, di samping beberapa corak pembunyi klakson di atas, masih banyak lagi jenisnya. Tentu saja, itu bisa dikenali di jalan-jalan, termasuk diri sendiri.

Di sebuah kawasan dengan penduduk pejalan kaki yang padat, seperti di beberapa tempat di pinggiran kota New Delhi, India, suara klakson hampir tak pernah berhenti. Bagaimana mungkin tidak membunyikan klakson, jika para pejalan kaki di tempat itu pandangan matanya hampir tidak pernah menoleh ke belakang dan cenderung cuek dengan kendaraan yang lewat. Bisa-bisa kendaraan yang disetirnya tidak bisa jalan sama sekali. Cara yang paling ampuh untuk bisa mencapai tujuan meski lambat adalah membunyikan klakson.

Namun, bagi pengendara kendaraan bermotor yang suka panik, dengan identifikasi orang kepanikan, justru membuat orang lain juga panik. Tidak heran, jika kejadian di atas, yang merupakan salah satu akibat dari pelanggaran berkendaraan yang tidak ada aturaannya, membuat orang lain terancam dan tidak selamat.

17 Tanggapan

  1. bisa jadi, buruan pengen buang hajat besar!

  2. titi dije

  3. sangat amat sering sekali saya mengalami di klakson dari belakang waktu lampu merah kaya gitu.
    mau kesel gimana mau gondok gimana yah namanya juga orang indonesia yang menurut survey tingkat kesabaran orang indonesia itu hanya sekitar 0.3 detik, apalagi liat lampu merah wow orang indonesia apapun bentuknya kalo bisa bablas… ya bablas langsung…..
    fuih indonesiaku.

  4. lul, klaksonmu rusak yo..??? kemaren boncengin aku kok ga pernah pake klakson sih??? berarti ga termasuk kategori diatas yaa??? pengen disebut cool, calm n confidence yaaa??? wuakakakakakaka….kapan kita ngopi-ngopi lagi??

  5. Hahahahaha… sengojo di rusak cak…

    Eh, iya.. aku menemukan kategori baru pembunyi klakson. Kategori Narsis. Pembunyi klakson ini sengaja membeli dan mencari klakson yang paling bagus untuk dipasang di kendaraannya. Nah, ketika dia mengendarai klakson kesukaannya tersebut, jalanan bisa ramai dan seakan mengajak orang untuk melihat klaksonnya yang bagus itu.

    Kategori selanjutnya adalah kategori kampanye. Kategori ini hampir mirip dengan kategori narsis. Miripnya pada maksud dia membunyikan klaksonnya, yakni ingin mencari perhatian supaya dilihat. Akan tetapi bukan untuk melihat klaksonnya, namun untuk melihat apa yang sedang dia perbuat….

  6. Right or wrong is my country… :mrgreen:

  7. numpang mencungul..

  8. kalau nyalip mah tidak perlu klakson.

    Begitu juga menyapa teman (naik motor itu tidak sama dengan naik sepeda atau jalan kaki!). Bahkan seharusnya pengemudi kendaraan tidak boleh menyapa teman kecuali kalau sedang berhenti di lampu merah. Kebiasaan menyapa hanya membuat macet.

    Numpang lewat di antara pejalan kaki juga tidak butuh klakson, bahkan bila kerumunan pejalan kaki tersebut sedang menyeberang, pengemudi sepeda motor seharusnya berhenti (kecuali kalau lampu hijau dan pejalan kaki-nya seharusnya menyeberang di jembatan penyeberangan).

    Saya biasa naik motor di gang2 dengan banyak kerumunan orang saat mengunjungi mertua di Gatot Subroto dan tidak perlu menggunakan klakson sama sekali. Menggunakan klakson hanya membuat para orang-orang tua marah karena tidak sopan.

    Memanggil pembantu di rumah juga seharusnya gak boleh pakai klakson, kan ada yang namanya bel pintu. Memanggil pembantu menggunakan klakson hanya mengganggu tetangga.

    Nyaris semua yang engkau katakan sebagai penggunaan klakson secara normal justru adalah penggunaan klakson di luar fungsi sesungguhnya

    Tujuan klakson itu satu! Mengingatkan akan BAHAYA KECELAKAAN. Misalnya, ada orang menyeberang sembarangan tanpa melihat situasi, tanpa melihat lampu merah, dan bahkan mengabaikan fasilitas penyeberangan seperti jembatan penyeberangan. Atau bila melihat pengemudi bis ugal-ugalan sehingga membahayakan keselamatan pengguna jalan yang lain. Atau bila melihat anak-anak kecil berlari2 dan bermain-main di tengah jalan tanpa mengerti bahayanya.

  9. Update..update! :D
    hehehehe…

  10. Numpang nampang :)

  11. walah, kalo masalah nubruk-menubruk, saya yang paling parah itu… orang yang nubruk saya meninggal…. udah ah, jangan diomongin, ntar orangnya dateng…… xixixixixix

  12. Ngeri kalau lihat orang tersungkur,
    nyusup aspal, soalnya saya pernah merasakan
    dan memang sakit sekali
    berhari hari….

    Ampun deh

  13. masi klakson aja

  14. Kadang ada orang yang sangat tidak sabaran, jika kendaraan di depannya berhenti langsung saja dia pencet klakson. DIa tidak mau peduli ada kejadian apa di depan. Tapi jika menjumpai yang seperti ini lebih baik Anda kasih jalan, sehingga berada di belakang kendaraannya lalu bersikaplah seperti dia: “klakson terus,” dia akan mabur dengan segera karena tidak tahan diklakson. Dendam itu namanya, hahaha.

  15. numpang lewat,lagi blogwalking nih. Begitulah masyarakat indonesia. Saya aja sebisa mungkin untuk tidak menyalakan klakson. Untuk menghindari berangkat kerja dengan terburu-buru, saya bangun dan berangkat kerja lebih awal sehingga saya bisa agak santai di jalanan dengan sepeda motor saya. Sukses ya. Salam kenal

  16. O, mungkin itu orang belum sarapan roti… coba klau makan roti kami..

Tinggalkan Balasan