Skip to content

Preman

Oktober 15, 2010

Sekitar empat atau lima tahun lalu saya bersama seorang teman bertemu seorang pengacara ternama. Sebelum kami bertiga ngobrol, pengacara itu asyik bicara dengan ponsel termahalnya waktu itu. Tanpa bermaksud mencuri dengar obrolan per telpon tersebut, kami mendengar hampir seluruh ungkapan sang pengacara.

 

“Kau siapkan 30 preman dari 3 suku. 10 orang nanti duduk sebelah kanan, 10 orang tengah, dan 10 orang di sebelah kiri,” begitu kira-kira instruksi sang pengacara kepada orang di seberang sana.

 

Pengacara keren itu juga menjelaskan pentingnya pemilihan ketiga suku tertentu untuk membangun kesan dari kelompok beragam. Kesan ini juga dimaksudkan agar persidangan yang akan dilangsungkan bisa berjalan sesuai keinginan pengacara itu. Keinginannya sederhana, aman dan menang.

 

Kenyataan pengacara menggunakan jasa preman seperti ini memang tidak asing lagi di dunia peradilan. Beberapa proses peradilan di Indonesia, khususnya perkara-perkara sengketa, apalagi sengketa tanah, terbukti efektif dengan menggerakkan kelompok preman. Tentu saja, para preman ini juga senang. Mereka tentu akan terus berharap sering-sering diajak kegiatan seperti ini. Sebab hal ini bisa mendatangkan rizki yang besar untuk senang-senang.

Baca selanjutnya…

Klakson

April 8, 2008

“D

in… Din… Din…” Tiba-tiba, “Brak!!!” Sebuah motor tersungkur, mencium aspal panas dengan roda tetap berputar.

Jalanan saat itu rapat dan padat kendaraan. Namanya saja Jakarta. Sudah menghadap lampu merah, waktunya orang pulang kerja, lagi. Jadi, jangan salahkan kalau jalanan jadi macet dan mampat.

Entah karena dikejar uang atau dikejar pulang, seorang lelaki bejaket kulit hitam, berhelm warna pekat, dan bermotor bebek mengkilat tampak bergerak cepat dengan gaya menyetir yang tegang, dia tak henti membunyikan klaksonnya, “Din… Din… Din…”.

Kira-kira, maksudnya supaya orang yang menghalangi jalan yang akan dilaluinya minggir atau menghindar. Kebetulan, orang yang berada di depannya panik, lalu gasnya ditarik, menabraklah motornya ke motor di depannya. Malangnya, dia tidak kuat untuk berusaha mengendalikan motor yang kaget itu. Orangnya pun lecet-lecet karena bergores dengan aspal. Baca selanjutnya…

Sekolah

Januari 28, 2008

“K

au mau pilih mana, sekolah gratis atau sekolah yang membayar?” pertanyaan ini tiba-tiba saja meluncur dari mulut berkumis seorang ayah. Lelaki itu sudah kesal pada anaknya. Berulang kali membahas soal sekolah, sang anak selalu mempertimbangkan karena ada teman di sana. Sementara, sang ayah selalu mempertimbangkan keunggulan sebuah sekolah.

Keduanya saling memegang kuat prinsipnya masing-masing. Entah, siapa yang paling benar di antara keduanya. Alasan masing-masing sama benarnya.

”Memang, apa beda sekolah gratis dengan sekolah membayar, yah?” pertanyaan sang anak menjawab pertanyaan ayahnya.

”Kau pikir sekolah gratis itu lebih baik dari sekolah membayar? Ini logika yang aneh. Baca selanjutnya…

Pajak

Januari 7, 2008

“P

 

ajak ini dibayar oleh jalan rusak”, ”Jalanlah di atas bayar pajak yang rusak”, dan “Rusaklah jalan ini dengan bayar pajak”. Itulah tiga kalimat ini hampir terpampang di setiap jalan yang rusak. Untungnya, si penggagas seribu spanduk ini tidak punya uang.

Apa pasal muncul gagasan bikin seribu spanduk itu? Baca selanjutnya…

Advokat

Januari 1, 2008

D

i sebuah desa terpencil, kalau ada pencuri yang tertangkap akan dikenai tiga sanksi. Pertama adalah sanksi sosial. Dia akan digosipkan, dikucilkan, dan akhirnya dikasihani. Sanksi kedua, dia harus membersihkan got-got kampung selama satu bulan. Dan ketiga, dia harus membayar sejumlah uang atau batu bangunan untuk memperbaiki fasilitas perkuburan. Maklum, kuburan di desa tersebut selalu saja terasa seram, sedangkan masyarakat di sana menginginkan kuburan juga bisa dipakai tempat pacaran.

Sayangnya, tidak banyak maling yang tertangkap. Baca selanjutnya…

Tilang

Desember 30, 2007

D

itilang? Alamak. Andai saja para polisi itu rajin melakukan operasi setiap hari, tidak kurang seratus orang akan ditilang. Meski Surat Izin Mengemudi (SIM) telah dipunya, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) belum dibayar pajaknya selama dua tahun. Sama saja, bukan. Kalau pun kedua surat tersebut tidak ada masalah, ada saja kekurangannya. Melanggar jalurlah, melanggar lampu merahlah, melanggar rambu-rambu lalu lintaslah, dan masih banyak lagi aturan-aturan yang seharusnya tidak boleh dilanggar.

Sayangnya, para polisi ini tidak terlalu rajin untuk mengoperasi para pengendara kendaraan bermotor. Mungkin polisi juga capek Baca selanjutnya…

Polisi

Desember 30, 2007

P

olisi. Ih, menyeramkan, menakutkan, dan sekaligus menggelikan. Padahal, mereka hanyalah manusia biasa, butuh makan, butuh ngeseks, butuh santai, sebagaimana manusia pada umumnya. Soal seragam, juga banyak kawannya, termasuk anak sekolah, pegawai kantor, tentara dan lain sebagainya. Akan tetapi memang, sepertinya hal-hal yang berseragam tampak manakutkan, bukan?

Mari kita telusuri hal-hal yang menakutkan akibat seragam. Baca selanjutnya…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.