Ditulis pada April 8, 2008 oleh pelanggar
in… Din… Din…” Tiba-tiba, “Brak!!!” Sebuah motor tersungkur, mencium aspal panas dengan roda tetap berputar.
Jalanan saat itu rapat dan padat kendaraan. Namanya saja Jakarta. Sudah menghadap lampu merah, waktunya orang pulang kerja, lagi. Jadi, jangan salahkan kalau jalanan jadi macet dan mampat.
Entah karena dikejar uang atau dikejar pulang, seorang lelaki bejaket kulit hitam, berhelm warna pekat, dan bermotor bebek mengkilat tampak bergerak cepat dengan gaya menyetir yang tegang, dia tak henti membunyikan klaksonnya, “Din… Din… Din…”.
Kira-kira, maksudnya supaya orang yang menghalangi jalan yang akan dilaluinya minggir atau menghindar. Kebetulan, orang yang berada di depannya panik, lalu gasnya ditarik, menabraklah motornya ke motor di depannya. Malangnya, dia tidak kuat untuk berusaha mengendalikan motor yang kaget itu. Orangnya pun lecet-lecet karena bergores dengan aspal. Read more »
DIarsipkan di bawah: Budaya, Sosial | yang berkaitan: kecelakaan, kendaraan, klakson, mobil, motor | 13 Komentar »
Ditulis pada Januari 28, 2008 oleh pelanggar
au mau pilih mana, sekolah gratis atau sekolah yang membayar?” pertanyaan ini tiba-tiba saja meluncur dari mulut berkumis seorang ayah. Lelaki itu sudah kesal pada anaknya. Berulang kali membahas soal sekolah, sang anak selalu mempertimbangkan karena ada teman di sana. Sementara, sang ayah selalu mempertimbangkan keunggulan sebuah sekolah.
Keduanya saling memegang kuat prinsipnya masing-masing. Entah, siapa yang paling benar di antara keduanya. Alasan masing-masing sama benarnya.
”Memang, apa beda sekolah gratis dengan sekolah membayar, yah?” pertanyaan sang anak menjawab pertanyaan ayahnya.
”Kau pikir sekolah gratis itu lebih baik dari sekolah membayar? Ini logika yang aneh. Read more »
DIarsipkan di bawah: Budaya, Hukum, Sosial | yang berkaitan: Pasal 31 ayat (4) UUD 1945, sekolah bayar, sekolah gratis, sekolah negeri., sekolah swasta | 10 Komentar »
Ditulis pada Januari 7, 2008 oleh pelanggar
ajak ini dibayar oleh jalan rusak”, ”Jalanlah di atas bayar pajak yang rusak”, dan “Rusaklah jalan ini dengan bayar pajak”. Itulah tiga kalimat ini hampir terpampang di setiap jalan yang rusak. Untungnya, si penggagas seribu spanduk ini tidak punya uang.
Apa pasal muncul gagasan bikin seribu spanduk itu? Read more »
DIarsipkan di bawah: Hukum, Politik, Sosial | yang berkaitan: 214 juta jiwa bayar pajak, bayar pajak, BPK, jalan rusak, korupsi, KPK, orang kaya, rekayasa pajak | 17 Komentar »
Ditulis pada Januari 1, 2008 oleh pelanggar
i sebuah desa terpencil, kalau ada pencuri yang tertangkap akan dikenai tiga sanksi. Pertama adalah sanksi sosial. Dia akan digosipkan, dikucilkan, dan akhirnya dikasihani. Sanksi kedua, dia harus membersihkan got-got kampung selama satu bulan. Dan ketiga, dia harus membayar sejumlah uang atau batu bangunan untuk memperbaiki fasilitas perkuburan. Maklum, kuburan di desa tersebut selalu saja terasa seram, sedangkan masyarakat di sana menginginkan kuburan juga bisa dipakai tempat pacaran.
Sayangnya, tidak banyak maling yang tertangkap. Read more »
DIarsipkan di bawah: Budaya, Hukum, Sosial | yang berkaitan: advokat, desa, Hukum, penjara, sanksi | 8 Komentar »
Ditulis pada Desember 30, 2007 oleh pelanggar
itilang? Alamak. Andai saja para polisi itu rajin melakukan operasi setiap hari, tidak kurang seratus orang akan ditilang. Meski Surat Izin Mengemudi (SIM) telah dipunya, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) belum dibayar pajaknya selama dua tahun. Sama saja, bukan. Kalau pun kedua surat tersebut tidak ada masalah, ada saja kekurangannya. Melanggar jalurlah, melanggar lampu merahlah, melanggar rambu-rambu lalu lintaslah, dan masih banyak lagi aturan-aturan yang seharusnya tidak boleh dilanggar.
Sayangnya, para polisi ini tidak terlalu rajin untuk mengoperasi para pengendara kendaraan bermotor. Mungkin polisi juga capek Read more »
DIarsipkan di bawah: Budaya, Hukum, Sosial | yang berkaitan: Calo, pelanggar, Pengadilan Negeri, PN, polisi, SIM, STNK, tilang | 3 Komentar »
Ditulis pada Desember 30, 2007 oleh pelanggar
olisi. Ih, menyeramkan, menakutkan, dan sekaligus menggelikan. Padahal, mereka hanyalah manusia biasa, butuh makan, butuh ngeseks, butuh santai, sebagaimana manusia pada umumnya. Soal seragam, juga banyak kawannya, termasuk anak sekolah, pegawai kantor, tentara dan lain sebagainya. Akan tetapi memang, sepertinya hal-hal yang berseragam tampak manakutkan, bukan?
Mari kita telusuri hal-hal yang menakutkan akibat seragam. Read more »
DIarsipkan di bawah: Budaya, Hukum, Sosial | yang berkaitan: demonstrasi, mahasiswa, pelajar, polisi, seragam, tawuran | Tidak ada komentar »
Ditulis pada Desember 30, 2007 oleh pelanggar
royek. Mendengar istilah ini, terbayang di benak saya, uang mengucur lebat seperti curug. Bayangan ini, saya kira, juga hinggap di benak-benak berbagai kelas masyarakat. Ia buta terhadap kelas. Karena istilah proyek benar-benar menjadi simbol kesejahteraan seseorang. Tidak peduli mereka adalah buruh bangunan, kuli batu, penjual es, tukang ojek, atau pejabat tinggi pemerintah, atau aktivis lembaga swadaya masyarakat.
Entahlah, kenapa istilah ini begitu menjalar dalam obrolan-obrolan di tongkrongan. Tentu saja, tongkrongan ini pun berbeda-beda tempatnya, sesuai dengan kemampuan membayar bill atau tagihan yang diminta oleh penjual. Kalau penghasilan di bawah Rp 20.000 perhari, tongkrongannya di warung dengan fasilitas Angin Cendela. Read more »
DIarsipkan di bawah: Sosial | yang berkaitan: eksekutif muda, kafe, proyek, tongkrongan, tukang ojek, warung | Tidak ada komentar »